Surat Sirat Hari Natal
Ini adalah tahun pertamaku terhitung perceraianku dengan Jefri. Belum terasa sangat berat atas perceraianku. Aku adalah seorang yang taat Katolik sedangkan Jefri adalah pria yang keluarganya melindunginya dengan Islam. Kami memiliki tiga orang anak. Rihana, 14 tahun, yang berjilbab dan menjadi kebanggaan sekolahnya atas kecantikannya. Rangga, 12 tahun, yang mahir memainkan piano dan rajin mempelajari al kitabnya. Yang terakhir adalah Ceshie yang meskipun masih 7 tahun, lukisannya terkenal hingga kantor bupati. Dan aku adalah Joanna. Usiaku 35 tahun, dan tak pernah lelah membelikan jilbab dan busana muslim tercantik untuk Rihana, mengantarkan Rangga pergi ke tempat les piano dan membelikan peralatan lukis untuk si bungsu.
Kami bercerai dikarenakan permintaan pihak keluarga Jefri yang terus – menerus menuntutnya untuk menceraikan aku. Jefri sangat mencintaiku, lebih – lebih aku. Setiap malam sebelum tidur, aku selalu berdo’a di bawah patung Bunda Maria agar mahligai rumah tangga yang kami bina hampir 16 tahun ini tetap harmonis dan terjaga, dan aku pun setiap tiga kali seminggu selalu melihat Jefri melaksanakan shalat tahajudnya dan mendo’akan tentang hubungan kami. Meskipun pada akhirnya kami berpisah. Pengadilan pun memutuskan agar anak – anak ikut denganku. Mereka juga tak keberatan. Meskipun aku selalu merasa tak enak hati dengan keluarga Jefri.
Walaupun begitu, Jefri diam – diam masih sering berkunjung ke rumah kami dan memberikan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari – hari, yang pasti tanpa ada adegan bersalaman atau bersentuhan sedikit pun karena kami sudah bercerai dan dalam Islam tidak boleh bersentuhan apabila tak ada ikatan mahrom. Ia menyarankanku untuk kerja menjadi kasir di minimarket terdekat agar dapat membantunya membayar sekolah anak – anak, membeli pakaian, makanan atau keperluan hari raya baik itu agamanya atau agamaku dan lain sebagainya.
Natal tahun ini pun terasa sepi. Saat makan siang seorang diri sembari menunggu jam pulang sekolah anak – anakku di sebuah rumah makan terkenal di ujung jalan, aku termenung sambil mengaduk – aduk jus melonku yang sudah tinggal setengah. Kusedot, lalu kembali kuaduk. Begitu terus hingga ponselku berdering. Aku tersentak kaget. Ternyata Rihana yang meneleponku. Ia kini sudah menungguku di depan sekolahnya. Aku pun segera membayar makan siangku dan pergi meninggalkan rumah makan itu.
“Hmm, kok agak lama ya Ma?” tanya Rihana saat kami sudah bersama di dalam mobil yang tak berAC itu.
“Haha, iya Mama minta maaf yah. Ayo kita bergegas agar lekas sampai di sekolah Rangga dan Ceshie.” Jawabku sedikit mengalihkan.
“Ayo!”
Kami pun tiba. Sekolah Rangga dan Ceshie adalah sekolah katolik terfavorit di kota kami. Di gapura gerbang sekolahnya tertera tulisan ‘SEKOLAH STANDARD INTERNASIONAL’, dan biasanyalah di sana Rangga dan Chesie menungguku untuk menjemput mereka. Tapi tumben sekali, Rangga dan Ceshie kini tidak terlihat di pintu gerbang atau di pos satpam sekolah. Aku bertanya kepada pak satpam yang saat itu bertugas. Badannya tinggi besar, berhidung bengkok dan berkulit gelap. Namanya John. John mengatakan bahwa Rangga dan Chesie sudah dijemput oleh seorang wanita yang mengaku sebagai tante dari mereka berdua. Aku agak kesal dengan John, mengapa ia begitu ceroboh? Tapi aku menyembunyikan rasa kesalku yang sebenarnya memang agak terlihat. Aku kembali ke mobil dan Rihana melihatku begitu dalam.
“Ada apa Ma? Mana Rangga dan Chesie?”
“Mereka sudah dijemput oleh seorang wanita yang mengaku sebagai tante mereka. Padahal kau tahu Han, aku semata wayang dan Papahmu kakak dari Om Hadyan dan Om Wira. Mana mungkin kalian punya tante kecuali paman – paman kalian sudah menikah? Apa yang dilakukan John? Ya Tuhan! Mengapa ia begitu ceroboh?” jelasku agak kesal.
Rihana mengelus pundak kiriku dan mencoba menenangkanku. “Sabar Ma. Lalu menurut Mama apa yang harus kita lakukan sekarang?”
“Tentu saja kita akan mencari mereka Han.” Jawabku galak.
Lima jam kemudian aku dan Rihana belum juga menemukan Rangga dan Chesie. Kami sudah mengitari ke seluruh tempat ternama yang ada di kota kami, tapi tak jua menemukan mereka. Aku dan Rihana kebingungan harus mencari mereka di tempat mana lagi. Kantor polisi pun tak mau mengurus apabila kehilangan mereka belum 24 jam. Akhirnya aku dan Rihana memutuskan untuk pulang. Kami lelah. Pencarian mereka akan kami lanjutkan besok, itu rencana kami.
Sesampainya di rumah, kami melihat keramaian sesosok tiga manusia di halaman depan rumah yang hampir ditutupi semak – semak dan kegelapan petang pukul 7. Sepertinya percakapan mereka cukup renyah yang diselipkan beberapa senda gurau yang amat berat. Tawa mereka lepas dan, sampailah kami di parkiran. Aku dan Rihana melihat dua sosok yang lain dan tak bukan adalah Rangga dan Chesie, dan yang satu lagi? Hmmm, kami tak tahu, terlebih Rihana. Aku dan Rihana keluar dari dalam mobil dan aku bergegas menghampiri mereka. Mereka bertiga sontak melihatku datang penuh kemarahan.
“Rangga, Chesie, sedang apa kalian? Mama dan kakak mencari – cari kalian kemana saja yang kami tahu. Ternyata kalian di sini malah enak – enakkan, tertawa dan berpesta kecil dengan perempuan yang tak kalian kenal.” Aku marah dan Rangga dan Chesie pun membatalkan senyumannya padaku sembari tertunduk.
“Pekenalkan, saya Amisha.” Wanita yang tak ku kenal dan berjilbab itu menyodorkan tangannya, dan aku pun menggapainya. “Maaf saya tidak izin kepada Anda terlebih dahulu. Jefri memang menyuruh saya untuk menjemput mereka, tapi saya lupa mendapatkan izin dari Anda.” Lanjutnya.
“Jefri? Kamu kenal dia?” tanyaku.
“Hmmm...” Amisha ingin menjawab tapi Rangga memotongnya.
“Dia calon istri Papah Mah.” Lalu Rangga kembali tertunduk.
“Oh, aku minta maaf Jo. Ak...ak...akuu...” kata Amisha gagap.
“Oh oh, tak apa Mish. Ak...aku, aku hanya panik mencari mereka. Mengapa tak sebaiknya kau tak izin aku dulu? Tapi tak masalah, hmmm, sudah makan malam?” aku memotong niat penjelasannya dan mungkin justru aku yang terlihat gagap.
“Ah, ini kami sedang menyiapkan makan malam, tapi maaf, kami menyiapkannya di luar rumahmu. Maaf.” Katanya sambil mengerutkan alisnya yang indah itu.
“Oh, tidak apa – apa. Ku fikir, kami butuh suasana baru. Oh ya, ini Rihana, anak sulung kami.”
“Hai! Cantik sekali. Mirip dengan Jefri.” Amisha dan Rihana pun bersalaman. Aku merasakan jantungku berdegup sangat kencang ketika mengetahui bahwa Amisha adalah calon istri Jefri. Ku fikir, secepat itukah ia bersua dengan wanita lain? Sedangkan ia mengaku sangat mencintaiku dan sulit mencari pendampingku. Bahkan jika aku boleh sombong, aku lebih cantik darinya, kulitku putih, meskipun aku tidak terlihat Arabian. Yah, aku juga termasuk primadona saat aku SMA.
Setelah kami selesai makan malam, anak – anak masuk ke dalam rumah, dan mungkin mereka bermain PS bersama. Sedangkan aku dan Amisha, sekadar menyantap desert yang tersedia dan mengobrol ringan. Ya walaupun ujung – ujungnya Jefrilah yang menjadi topik pembicaraan kami.
Amisha memegang tanganku dan berkata,”Hanya perlu kau tahu, bahwa kau adalah wanita yang beruntung menjadi wanita yang paling dicintainya setelah ibunya. Kau tak tergantikan.”
“Maksudmu? Kau kan sudah kencan dengannya, mengapa kau katakan seperti itu?” tanyaku dan memegang tangannya yang memegang tanganku.
“Tiada kencan dalam islam. Aku diperintahkannya agar menjemput Rangga dan Chesie sekalian mengajak mereka jalan – jalan. Maaf Jo, aku sangat senang mereka senang bermain denganku.”
“Mengapa harus minta maaf? Aku turut senang Mish apabila yang telah diperintahkan Jef akhirnya berjalan dengan sangat baik. Justru aku yang harus berterima kasih kepadamu.” Kataku.
“Tapi Jo, sebenarnya kami hanyalah di tengah perjodohan orang tua kami. Kau tahukan karakter orang tua Jef? Lantas orang tuaku? Orang tuaku menuntuku agar segera menikah. Aku adalah seorang janda yang masih gadis.”
“Maksudmu?” aku pun heran akan penjelasannya sampai membuat air putih hangat yang aku seruput tersedak di tenggorokanku.
“Ya. Aku janda tiga tahun yang lalu. Suamiku terdahulu bernama Arjun. Setelah menikah meskipun Arjun belum sama sekali menyentuhku, ia meninggal saat bertugas perang di Palestina. Tepatnya seminggu setelah kami menikah. Aku mengalami depresi berat. Dua tahun kemudian setelah kau dan Jefri bercerai, kami dijodohkan. Kami baru bertemu sekali, saat ta’aruf sebulan yang lalu. Kami hanya berhubungan lewat SMS atau telepon. Itu juga jarang sekali. Setiap kali ku hubungi, ia selalu berada di rumahmu, liburan dengan anak – anakmu, membelikanmu baju, atau memikirkanmu. Kau begitu berharga di matanya. Ku fikir, dia tidak akan bisa mencintaiku.”
“Hey, apa yang kau katakan Amisha? Cinta itu bisa mengalir seiring dengan berjalannya waktu. Cinta juga bisa datang dari sebuah perasaan simpati, ya meskipun itu terdengar jahat sekali. Tapi sungguh manis akhir ceritnya. Aku harap kau tidak menyerah.” Kataku menyemangatinya.
“Maksudmu, aku harus membuatnya simpati kepadaku?” tanyanya.
“Hey, kau sudah membuatnya. Kau telah berhasil membuat anak – anak senang jalan – jalan denganmu. Aku tak menyesalkan akan kejadian buruk hari ini setelah aku tahu bahwa kau yang membawa mereka, dan toh? Mereka bahagia kan? Jadi, berfikirlah positif bahwa suatu saat, insyaallah...” Amisha berjengit ketika mendengar Joanna menyebut ‘insyaallah’, “dalam waktu dekat, Jefri mencintaimu dan aku dapat dilupakannya, dan tentunya, aku bisa melupakannya juga. Oke!”
“Oke, baiklah. Hey, ayo habiskan desertnya!” serunya kali ini bangkit.
Tiba – tiba sebuah mobil sedan datang di depan halaman dan pemilik mobil itu membuka kaca mobil dan memanggil Amisha. “Amisha! Ayo!”
“Ya!” teriak Amisha.
Aku dan Amisha bangkit dari duduk dan ia mengambil tas ransel kulitnya yang lucu. “Itu adalah Carlos. Dia setia katolik. Baru pulang dari Vatikan seminggu yang lalu. Maklum, dia orang yang paling sungguh – sungguh mengerjakan tesis, menurutku sih.” Jelasnya.
“Lalu, kau...”
“Oh, tentu tidak berdua. Kan tidak boleh berduaan dengan yang bukan mahrom. Di dalam masih ada Simran dan Zao. Simran adalah seorang Hindu keturunan India asli, dan Zao adalah seorang Buddha, ia lahir di Bangkok saat ayahnya masih bekerja di sana. Lengkap kan? Hahahahaha...” jelasnya singkat dan padat hingga membuatku ikut tertawa juga. Mereka sangat kompak.
“Carlos, ini Joanna. Joanna ini Carlos.” Amisha memperkenalkan kami berdua, dan kami pun bersalaman. Sepertinya dia begitu terpana melihatku. Tapi mengapa aku merasa dia sangat menarik ya? Jujur aku GR. Hehehehe. Lalu, kaca mobil belakang terbuka. Sesosok wanita berselendang dan hitam manis berkata,”salam” padaku sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
“Nah, itu Simran. Simran ini Joanna. Hey Zao, diam saja kau ini.” Amisha begitu ramah. Aku senang sekali.
“Hai Jo!” sambut Zao riang.
“Jo, aku pergi dulu ya! Terima kasih atas jamuannya. Selamat malam!”
Amisha masuk ke dalam mobil dan mereka semua mendadahiku. Oh Tuhan, entah mengapa aku senang sekali hari ini. Apa karena anak – anakku kembali? Aahh, mereka sebenarnya biasanya sering menghilang tanpa pamit sih meskipun tidak dengan orang tak dikenal. Hhmm, karena Amisha yang sangat ramah itukah? Oohh, sedikit lagi. Atau? Carlos??? Oh tidak!
Entah apa yang dibicarakan Amisha pada Carlos sehingga pada pukul 22.00 hari itu Carlos meneleponku. Kami cukup lama berbicara. Dia selalu membuatku tertawa, dan tanpa terasa satu jam berlalu. Aku pun tidur dalam bahagia.
Saat sehari sebelum natal, aku dan anak – anak menghias pohon natal setelah Jefri datang memberikan segala kebutuhan natal. Tiba – tiba Carlos meneleponku. Aku pergi dari pandangan anak – anak.
“Halo. Ada apa Carlos?
“Hey, aku hendak mengajakmu kencan sore ini. Bisa?” ajaknya.
“Ah, aku sangat menyesal tidak bisa memenuhi undanganmu. Ak...aku, aku bersama anak – anak menghias pohon natal dan mempersiapkan untuk besok. Hmm, aku minta maaf sekali Carlos.” Jelasku.
“Hmmm, kalau aku yang datang ke rumahmu dan membantumu dan anak – anakmu menyiapkan natal? Bagaimana? Aku mohon! Aku janji akan membuat anak – anakmu senang! Yeah!”
“Serius?”
“Tentu saja Jo! Aku mohon! Boleh ya?” mohonnya kepadaku.
“Tentu saja, kenapa tidak? Aku tunggu kau mulai dari sekarang.”
Aku tidak sabar akan kehadiran Carlos. Tapi jantungku terus bergoyang – goyang dalam dada. Aku terus tersenyum meskipun agak repot menghadapi anak – anak yang saling menjahili satu sama lain.
Pukul 4 sore, Carlos datang. Dan yang lebih membuatku senang adalah ia tidak sendiri. Melainkan ia membawa Simran, Zao dan tentu saja Amisha. Kami bukan hanya menghias pohon natal, kami juga menghias rumah, memasak dan bermain. Saat aku dan Amisha sedang mebuat adonan brownis, ponselnya berdering. Aku yang saat itu berada di depan ponselnya melihat bahwa Jefri mengSMSnya. “Mish, ada SMS dari Jef.”
Spontan, gerakan tangannya yang sedang mengaduk adonan dengan mixer itu berhenti, sepertinya dia merasa tak enak denganku. “Biar ku bantu.” Kataku sambil mendekat padanya dan memegang mixernya.
“Tidak usah Jo. Hmm, bisakah kau membuka SMSnya?” minta Amisha.”Tapi, kalau kau tidak kuat, biar aku saja” lanjutnya.
“Oh, tidak tidak. Aku senang Mish. Tenang saja.” Kataku.
Anehnya aku kini merasa tidak cemburu, marah atau kesal. Aku bahagia dan selalu menampakkan senyum. Lalu kubuka SMS itu. Isinya adalah,”Amisha, aku mencintaimu :)”
Lalu aku berteriak senang,”Amisha, tebak apa yang ia kirim padamu! Jefri mencintaimu!”
Amisha mematikan mixernya dan melihat isi SMS itu. Kami senang dan kami berpelukan.
Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam. Mereka hendak pulang. Aku dan Carlos masih di halaman belakang. Saat ia hendak menuju pintu depan, ia memegang tanganku dan mencium keningku. Aku sangat senang malam hari itu.
Ketika mereka sudah menghilang dari rumah kami, aku dan anak – anak berencana untuk tidur tidak di kamar. Melainkan dimana saja yang kami suka. Tentu anak – anak senang sekali. Sebelum tidur kami menonton TV dan membuat kesepakatan dengan anak – anak.
“Aku mau, malam ini sebelum tidur, kalian membuat masing – masing empat surat untuk saudara – saudara kalian, aku dan tentu saja Papah kalian. Surat akan dikumpulkan besok sore dan akan dibacakan saat malam hari. Bersedia?”
“Ah tapi aku malu Mah.” Seru Chesie.
“Tidak boleh ada kata malu! Semua harus membuat.” Perintahku.
“Lalu Mamah? Tidak?” tanya Rangga.
“Aku kan sudah masak dan akan membacakan surat kalian nantinya. Weeeeee!”
“Serbu Mamah. Mamah curang!” seru Rihana.
Malam itu sangat membuatku senang dan melupakan natal terburuk yang terjadi tahun lalu. Aaahhh, aku lega.
Keesokkan harinya pukul 4 sore, surat dikumpulkan. Carlos datang bersama pasukannya yang kemarin hari tengah membuat rumah kami ramai. Simran terlihat sangat manis mengenakan sari berwarna putih. Zao dengan celana jeans dan kemeja warna coklat tua, cukup berwibawa. Amisha mengenakan gamis hitam dan kerudung yang dihias, ia juga mendandani Rihana. Mereka berdua tampil kompak. Dan Carlos? Carlos bertuxedo hitam dan kemeja putih, dengan celana bahan. Wow! Aku terpana!
Waktu sudah menunjukkan pukul 20.00, tapi Jefri belum juga datang. “Mah, kapan kita akan membaca suratnya? Aku sudah lapar.” Tanya Rangga.
“Kita tunggu Papah datang sayang.” Jawabku. Aku cemas menantinya, begitu juga dengan Amisha.
Tiba – tiba,“Assalamu’alaikum!”
Yang menjawab salam itu hanya Amisha dan Rihana. Jefri datang, ia lebih mempesona dibandingkan setahun yang lalu. Ia terlihat muda, gagah, kokoh dan sumringah. Kami menyambutnya.
Saat semua sudah kumpul, aku mengambil surat – surat anak – anak. “Biar aku dan Zao saja yang membacakannya Jo.” Kata Simran meminta.
“Oh, baiklah.” Aku pasrah.
Simran pun mulai membacakan surat pertama dari Rihana. “Untuk Rangga : Maukah kau menjadi pianis saat aku menikah nanti?” Semua tertawa mendengarnya. “Untuk Chesie : Tolong buatkan tugas menggambar perspektifku dong! Aku kesulitan.” Semua tertawa lagi. “Dan untuk Mamah dan Papah: Cuma, Mmmmmuuuuaaaaaahhhhh!” Semua pun memegang perutnya masing – masing karena Simran sangat lihai memeragakan ekspresi yang tertera dalam surat itu.
Surat kedua, dari Rangga dan akan dibacakan oleh Zao. “Untuk Kak Rihana : Ah sayang saja aku adikmu. Jika bukan, aku akan memacarimu Kak.” Kali ini para pendengar terlonjak dan spontan terbahak. Permintaan Rangga kepada Rihana sangatlah konyol. “Untuk Chesie : Mengapa kulitmu mulus seperti Mamah?” Pendengar tertawa lagi dan Chesie berkata,”ya karena aku anak Mamahlah. Dasar konyol!”. Zao melanjutkan,”untuk Mamah : Diam – diam saat membuat surat ini, aku menghabiskan sepotong brownis yang ada di kulkas. Maaf ya Mah! Hehehehe...” Joanna mengelus kepala Rangga sembari tertawa dan para pendengar setia lainnya menolehkan kepala mereka ke meja makan yang jauhnya 10 meter. “Untuk Papah : Aku harap natal ini, Papah sedikit lebih putih.” Maka Jefri pun menjitak Rangga.
Dan surat yang terakhir, yakni dari Chesie, dibacakan kembali oleh Simran. “Untuk Kak Rihana : Aku bingung mengapa kau begitu mahir membaca al qur’an. Padahal tulisannya sangat ribet. Kau hebat!” Tawa menggelegar terulang lagi. “Untuk Kak Rangga : Aku dengar dari teman – temanmu, kau playboy bukan karena tampan, tapi karena kau rajin membaca al kitab dan mahir bermain piano.” Para pendengar tertawa kembali.
Lalu Jefri berkata,”Sungguh! Waktu muda dahulu aku bukanlah playboy! Hahahaha!”
Simran melanjutkan membaca surat. “Untuk Mamah :...” Simran berhenti sejenak dan mengambil nafas. Semua yang melihatnya merasa ada keganjilan, kecuali Chesie yang tertunduk. “menikahlah dengan Carlos.” Tiada tawa sekarang. Semua berjengik dan tertunduk. ”Dan untuk Papah : menikahlah dengan Amisha. Aku ingin punya 4 orang tua sekaligus. Aku mohon! :)”
Semua terdiam dan Jefri memecah kesunyian itu. “Ya. Aku akan menikah dengan Amisha dan di samping pelaminan kami akan ada Mamah dan Carlos. Aku memang belum tahu Carlos. Tapi nanti kita akan berkenalan. Aku janji Ches. Maukah kau menjadi pemegang buntut gaun Mamahmu saat berjalan menuju altar di gereja nanti?” Jefri pun duduk di dekat Chesie sekarang.
“Tentu! Terima kasih Pah!” Chesie memeluk Jefri.
Sungguh hari itu adalah natal paling bahagia yang pernah kumiliki. Dan semua perkataan Jefri pun terwujud saat kami berempat menikah. Hmmm, lalu aku bertanya pada Amisha saat di pelaminan,”Mengapa saat itu kau tidak mengatakan bahwa cinta bisa datang dari perasaan GR?”. Amisha bingung dan mengerutkan keningnya. Tapi tetap saja, kami sangat bahagia.
***TAMAT***